Jumat, 29 Januari 2016

Benang Merah Masa Lalu dan Sekarang

MENEMUKAN diri kita sudah jauh berbeda dari beberapa tahun yang lalu, jelas membuat siapa saja akan berdecak kagum atas semua takdir yang telah diberikan. Pun demikian denganku, pagi ini terasa indah dan tak biasa, tidak genap satu dekade, perubahan seperti yang kuinginkan sedikit demi sedikit terwujud dengan cara terbaik yang diberikan Allah.
Meski terkadang, semua usaha harus dibalut dengan air mata. Bukan ingin terkesan melankolis, tetapi semua yang kudapatkan justru ketika lelaki terkasih keluarga kami sudah tidak ada. Padahal, ingin rasanya melihat senyum dan keceriaan wajahnya dengan semua pencapaian yang telah kuraih saat ini.

**
TIDAK pernah terpikirkan bahwa keinginanku mengejar ketertinggalan di dunia menulis delapan tahun lalu, sudah menampakkan hasil yang cukup mengagumkan, apalagi bagiku yang terbilang baru dan bukan siapa-siapa. Tak pernah berhenti hati ini mengucapkan syukur atas semua yang telah kulalui, meskipun tak sedikit nafas harus dihembuskan dengan diiringi nyeri, bukan karena sakit paru-paru, tetapi semuanya tidak mudah untuk didapatkan.
Pagi ini, ku buka mataku dengan sedikit terkejut, bukan karena ada yang membangunkan, justru, sebaliknya. Kudapati tubuhku masih enggan tuk beranjak, padahal matahari sudah cukup memancarkan sinarnya. Ini menandakan bahwa jam dinding telah memasuki pukul 06:00 Waktu Indonesia Tengah. Semua organ tubuhku seketika bergerak tanpa harus dikomando, bergegas memasuki kamar mandi dan mengambil wudhu.
Shalat subuh yang telat memang kadang-kadang membuatku menjadi sedikit tergesa, pasalnya tidak inginlah seharian diriku hanya menyesali keteledoranku bangun telat. Tak bersimpuh di pagi hari, itu sama saja tak menginginkan rejeki terbaik hari ini. Jadi, meski telat saya pun masih tetap melakukan dengan tetap berharap Allah memberi rahmatNya melalui malaikat yang masih menunggu hamba-hamba yang terlambat.
Setelah shalat subuh, diriku mencoba mengumpulkan semangat untuk melakukan banyak hal di akhir pekan. Duduk di sofa depan pintu, tempat dimana almarhum papa sering menghabiskan waktunya di siang hari. Mencoba menarik benang merah atas semua yang terjadi sejak pertama kali kaki ini kembali dijejakkan di Kota Makassar pasca kuliah di Kota Gudeg.
Orang yang selalu panik melihat diriku menghabiskan waktu di rumah, tak lain adalah papa. Papa setiap hari membelikan koran hanya untuk mencarikanku pekerjaan yang sesuai dengan jurusan kuliah yang ku enyam. Dapatlah satu pekerjaan sebagai pengajar di sebuah Lembaga Pendidikan Bilingual di bilangan Mesjid Raya. Belum cukup tiga bulan, saya mendapatkan promosi jabatan sebagai school manager, gaji yang lumayan dipastikan akan seimbang dengan tanggung jawab yang akan diemban. Bayangkan saja, saya yang belum terbiasa dengan dunia pendidikan, harus mampu memimpin 12 guru lainnya dan membuat silabus.
Semuanya terjadi pada akhir 2007 hingga 2008, tak lama memang. Ini lantaran, ada tawaran menarik untuk membuatku lebih dekat dengan dunia tulis menulis. Akhirnya kuputuskan meninggal zona nyaman dengan gaji yang membuai dunia. Memulai dari bawah sebagai penulis amatiran di sebuah tabloid yang baru saja dibentuk. Sedikit tak sesuai rencana, tabloid itu dibubarkan pasca tiga bulan. Papa hanya melihatku tak berdaya, Ia yakin keputusanku yang terkadang terlampau ajaib.
Tak sampai sebulan menikmati suasana rumah, saya mendapatkan pekerjaan sebagai repoter di sebuah tabloid internal milik TNI AD. Menyesuaikan diri dengan kebiasaan dilingkup militer tak semudah yang terpikirkan, tetapi semuanya membantu proses dunia literasi yang ingin kudalami. Suka tidak suka, harus suka untuk dijalani.
Dan di akhir 2010, tepatnya pada bulan Oktober saya bergabung di stasiun televisi swasta lokal pertama di Sulawesi Selatan. Dalam dunia inilah, proses bermetamorfosis diriku menjadi penulis ditempa dan diasah. Perjalanan tak semudah dibayangkan memang menjadi bayaran mutlak dari sebuah impian.

***
KULANGKAHKAN kakiku menuju teras, memandang langit yang selalu membuat hatiku lebih lapang dari sebelumnya. Langit merupakan tempat pelampiasanku atas semua takdir Allah, ketika takdirnya sedang menguji batas iman yang kumiliki, wajah langit pasti seakan tak bersahabat. Namun sebaliknya ketika takdir sedang menunjukan wajah senyumnya, maka langit memberiku ruang lebih luas untuk bersyukur. Langit tak harus menunduk ataupun menengadah untuk menunjukan dirinya ada pada dunia, itulah kenapa saya begitu mengagumi ciptaan Allah yang satu itu.

Jika hari ini saya berhasil, bukan karena takdir sedang berbaik hati, tetapi langit mencoba membayar janji yang tertunda. Membisikan satu fakta bahwa usaha apapun yang dilakukan dengan serius akan membawakan hasil diakhir perjalanannya. Maka sebelum melakukan apapun, yakin saja bahwa itu yang terbaik untuk dilakukan.   

1 komentar:

  1. Yeayyyy, sungguh saya terinspirasi dari kisah benang merah ini

    BalasHapus