Jumat, 29 Januari 2016

Benang Merah Masa Lalu dan Sekarang

MENEMUKAN diri kita sudah jauh berbeda dari beberapa tahun yang lalu, jelas membuat siapa saja akan berdecak kagum atas semua takdir yang telah diberikan. Pun demikian denganku, pagi ini terasa indah dan tak biasa, tidak genap satu dekade, perubahan seperti yang kuinginkan sedikit demi sedikit terwujud dengan cara terbaik yang diberikan Allah.
Meski terkadang, semua usaha harus dibalut dengan air mata. Bukan ingin terkesan melankolis, tetapi semua yang kudapatkan justru ketika lelaki terkasih keluarga kami sudah tidak ada. Padahal, ingin rasanya melihat senyum dan keceriaan wajahnya dengan semua pencapaian yang telah kuraih saat ini.

**
TIDAK pernah terpikirkan bahwa keinginanku mengejar ketertinggalan di dunia menulis delapan tahun lalu, sudah menampakkan hasil yang cukup mengagumkan, apalagi bagiku yang terbilang baru dan bukan siapa-siapa. Tak pernah berhenti hati ini mengucapkan syukur atas semua yang telah kulalui, meskipun tak sedikit nafas harus dihembuskan dengan diiringi nyeri, bukan karena sakit paru-paru, tetapi semuanya tidak mudah untuk didapatkan.
Pagi ini, ku buka mataku dengan sedikit terkejut, bukan karena ada yang membangunkan, justru, sebaliknya. Kudapati tubuhku masih enggan tuk beranjak, padahal matahari sudah cukup memancarkan sinarnya. Ini menandakan bahwa jam dinding telah memasuki pukul 06:00 Waktu Indonesia Tengah. Semua organ tubuhku seketika bergerak tanpa harus dikomando, bergegas memasuki kamar mandi dan mengambil wudhu.
Shalat subuh yang telat memang kadang-kadang membuatku menjadi sedikit tergesa, pasalnya tidak inginlah seharian diriku hanya menyesali keteledoranku bangun telat. Tak bersimpuh di pagi hari, itu sama saja tak menginginkan rejeki terbaik hari ini. Jadi, meski telat saya pun masih tetap melakukan dengan tetap berharap Allah memberi rahmatNya melalui malaikat yang masih menunggu hamba-hamba yang terlambat.
Setelah shalat subuh, diriku mencoba mengumpulkan semangat untuk melakukan banyak hal di akhir pekan. Duduk di sofa depan pintu, tempat dimana almarhum papa sering menghabiskan waktunya di siang hari. Mencoba menarik benang merah atas semua yang terjadi sejak pertama kali kaki ini kembali dijejakkan di Kota Makassar pasca kuliah di Kota Gudeg.
Orang yang selalu panik melihat diriku menghabiskan waktu di rumah, tak lain adalah papa. Papa setiap hari membelikan koran hanya untuk mencarikanku pekerjaan yang sesuai dengan jurusan kuliah yang ku enyam. Dapatlah satu pekerjaan sebagai pengajar di sebuah Lembaga Pendidikan Bilingual di bilangan Mesjid Raya. Belum cukup tiga bulan, saya mendapatkan promosi jabatan sebagai school manager, gaji yang lumayan dipastikan akan seimbang dengan tanggung jawab yang akan diemban. Bayangkan saja, saya yang belum terbiasa dengan dunia pendidikan, harus mampu memimpin 12 guru lainnya dan membuat silabus.
Semuanya terjadi pada akhir 2007 hingga 2008, tak lama memang. Ini lantaran, ada tawaran menarik untuk membuatku lebih dekat dengan dunia tulis menulis. Akhirnya kuputuskan meninggal zona nyaman dengan gaji yang membuai dunia. Memulai dari bawah sebagai penulis amatiran di sebuah tabloid yang baru saja dibentuk. Sedikit tak sesuai rencana, tabloid itu dibubarkan pasca tiga bulan. Papa hanya melihatku tak berdaya, Ia yakin keputusanku yang terkadang terlampau ajaib.
Tak sampai sebulan menikmati suasana rumah, saya mendapatkan pekerjaan sebagai repoter di sebuah tabloid internal milik TNI AD. Menyesuaikan diri dengan kebiasaan dilingkup militer tak semudah yang terpikirkan, tetapi semuanya membantu proses dunia literasi yang ingin kudalami. Suka tidak suka, harus suka untuk dijalani.
Dan di akhir 2010, tepatnya pada bulan Oktober saya bergabung di stasiun televisi swasta lokal pertama di Sulawesi Selatan. Dalam dunia inilah, proses bermetamorfosis diriku menjadi penulis ditempa dan diasah. Perjalanan tak semudah dibayangkan memang menjadi bayaran mutlak dari sebuah impian.

***
KULANGKAHKAN kakiku menuju teras, memandang langit yang selalu membuat hatiku lebih lapang dari sebelumnya. Langit merupakan tempat pelampiasanku atas semua takdir Allah, ketika takdirnya sedang menguji batas iman yang kumiliki, wajah langit pasti seakan tak bersahabat. Namun sebaliknya ketika takdir sedang menunjukan wajah senyumnya, maka langit memberiku ruang lebih luas untuk bersyukur. Langit tak harus menunduk ataupun menengadah untuk menunjukan dirinya ada pada dunia, itulah kenapa saya begitu mengagumi ciptaan Allah yang satu itu.

Jika hari ini saya berhasil, bukan karena takdir sedang berbaik hati, tetapi langit mencoba membayar janji yang tertunda. Membisikan satu fakta bahwa usaha apapun yang dilakukan dengan serius akan membawakan hasil diakhir perjalanannya. Maka sebelum melakukan apapun, yakin saja bahwa itu yang terbaik untuk dilakukan.   

Jumat, 22 Januari 2016

Tetap Melihat Hal “Positif” Dibalik Kata Penolakan

LANGIT tidak secerah kemarin saat kucoba membuka kaca jendela di ruang kerjaku di kantor. Semuanya tampak abu-abu, seabu-abu hatiku yang dipenuhi kegundahan atas proyek yang sudah lama dijalankan, tetapi hari ini harus kembali diulang dari awal. Haruskah marah atau cukup hanya kecewa? Mengambil sikap pun jadinya tak mampu kulakukan, tidak seperti biasanya.

**
PEMINDAHAN tanggung jawab suatu proyek biasanya dilakukan karena ada masalah yang tak bisa diselesaikan, namun beda halnya ketika proyek ini harus dipindah-tangankan ke saya. Masalah yang dihadapi si penanggung jawab pada awalnya hanyalah masalah pribadi yang berakhir pada berkurangnya kesehatan fisiknya, sehingga dianggap tak mampu untuk menyelesaikan proyek dengan maksimal.

Ketika diajak meeting untuk pertama kali, bekalku hanya satu yakni konsep jadi yang sudah dibuat dan dirapatkan dengan si penanggung jawab pertama. Sebenarnya banyak keuntungan yang bisa didapatkan, saat Anda menyelesaikan proyek yang sudah berjalan, salah satunya Anda tak harus berpikir untuk melahirkan sebuah konsep. Itu pikiran pintas yang coba kutanam untuk menyenangkan hatiku yang menolak dan tak ingin menjalankan proyek orang lain.

Bukan mencoba untuk mempertahankan keidealisan ketika harus dihadapkan dengan masalah seperti ini. Namun, menurut pengalaman saat menjalankan proyek dengan client, lebih enak jika konsep yang dipakai adalah konsep yang dibuat sendiri. Alasannya ide awal biasanya akan mempengaruhi Anda dalam memutuskan kebijakan terhadap client, dan alasan berikutnya alur konsep akan lebih matang dan Anda akan lebih mampu meyakinkan client.

Tetapi, semuanya harus dijalani layaknya hal yang biasa. Konsep jadi menjadi patokan untuk bisa menghasilkan sebuah iklan yang diinginkan oleh client. Sejumlah meeting  harus dijalani untuk memantapkan konsep tersebut, namun sayangnya hatiku masih tak bisa merasakan sensasi kepuasaan di setiap hasil pertemuan, hingga proses panjang pembuatan iklan itu sampai pada tahap akhir yakni pengeditan.

***
“JIKA Anda ingin mempertahankan konsep ini silahkan, tetapi kalau saya bolehkah ada konsep yang lain?”

Pertanyaan singkat itu masih terus saja terputar di kepalaku, layaknya kaset rusak yang terus terulang dibagian yang sama. Hal inilah yang saya takutkan ketika menerima penugasan proyek ini untuk pertama kalinya. Pertanyaan itu bermuara pada kata dilema dan terus mengusikku hingga hari ini, dimana langit tak menampakan wajah cerianya.

Hasil meeting terakhir sebenarnya berawal dari sebuah telepon seorang perempuan terhadap marketing yang mendapatkan proyek. Perempuan itu yang tak lain adalah manager promosi di perusahaan yang menjadi client dalam pembuatan iklan ini. Dia meminta agar membantunya untuk keluar dari masalah.

Awalnya bingung, masalah apa yang bisa kami bantu, mengingat kami beda manajemen. Namun, ketika Ia menyebutkan masalah iklan, pantaslah itu juga menjadi masalah yang mengaitkan pihak kami.

Wanita ini, memang beberapa kali saya jumpai ketika rapat terkait pemilihan konsep, setelah konsep diputuskan, maka saya dan tim mulai mengeksekusi pembuatan iklan, mulai dari menghubungi talent, makeup artist hingga survey lokasi pengambilan gambar. Beberapa minggu kami bergelut dengan pengambilan gambar, selain masalah cuaca yang tak menentu, lokasi kedua yang ingin digunakan untuk shooting belum didapatkan oleh pihak clinet. Sampailah pada akhir pengambilan gambar dan masuk dapur editing. Semuanya masih berjalan sesuai rencana hingga tahap ini. Lantas dimana awal mula masalah itu lahir?

Ternyata selama ini, rapat yang kami lakukan guna pemilihan konsep mungkin tidak didiskusikan dengan si pemilik kebijakan tertinggi. Alhasil, si bos itu murka dan menganggap bahwa Ia tidak pernah mengeluarkan keputusan untuk memilih konsep iklan seperti yang kami buat. Bayangkan saja, kami telah menghabiskan waktu sekitar 2 (dua) bulan hanya untuk membuat konsep itu menjadi sesuatu yang dapat ditonton, dan akhirnya dimentahkan oleh sebuah kondisi yang tak mengenakkan dalam manajemen mereka.

Itulah awalnya, pihak marketing kantor kami yang coba bertindak bijak namun berujung malapetaka pada proses pembuatan iklan. Namun, ketika saya sebagai penanggungjawab konsep memperjuangan terkait talent yang terlibat dan bagaimana pembayarannya, justru dianggap hal yang mudah dan kecil untuk diselesaikan.

Bukankah ketika konsep berubah, maka talent yang dilibatkan juga akan berubah. Ataukah saya yang berpikir terlalu keras dalam situasi ini? Hingga langit kelabu pun membuatku tambah gelisah.

****
TIM kerja yang baik itu, harus dilandasi dengan komunikasi yang baik. Itu prinsip kerja yang saya tanamkan semenjak dipercaya untuk menjalankan beberapa proyek. Jadi hal pahit ini pun harus kusampaikan dengan berat hati kepada semua pihak yang terlibat.

Saya hanya bagian dari sebuah tim kerja, dan tim kerja menjadi bagian dari kesepakatan yang terikat “rupiah” yang harus dikeluarkan oleh client. Namun, terkadang ada sejumlah pihak terlalu mempermudah suatu hal, dimana seharusnya hal tersebut harus diselesaikan dengan diskusi dan duduk bersama. Tetapi, biasanya mereka bertindak hanya di atas permukaan air, hingga riaknya baru akan terasa ketika ada orang yang turun dan membicarakannya dengan tim kerja. Mereka juga tidak ingin tahu seberapa besar riak yang dihasilkan atas keputusan mereka, itulah cerminan kerja sama dalam sebuah organisasi yang dipayungi oleh badan hukum.

Konsep harus kembali dibuat, mungkin ada hal positif yang didapatkan ketika Anda mendapatkan penolakan. Setidaknya saya sadar, kerja dalam sebuah tim tidak semudah yang dibayangkan oleh sebagian orang, komunikasi yang baik belum tentu menghasilkan sesuatu seperti yang Anda bayangkan. Tetapi, tanpa komunikasi yang baik, tim kerja tidak akan bekerja secara maksimal.

Jika Anda memutuskan untuk bekerja dengan orang lain, secara otomatis Anda telah siap untuk menjadi bagian tim kerja yang baik. Masalah jabatan itu hanya sebatas tanggung jawab lebih yang diberikan oleh orang tersebut, tetapi pada dasarnya semua tanggung jawab dan kerja yang harus dilakukan setiap anggota tim itu sama. Jadilah anggota tim kerja yang baik, memberikan masukan dan mengerjakan sebuah proyek hingga selesai. Kadang-kadang perasaan dan tidak enak hati hanya akan membuat Anda berpikir negatif dan menghentikan langkah Anda.

Saya juga masih terus mencoba dan belajar menjadi anggota tim kerja yang baik, entah itu di kantor maupun di komunitas tempatku bernaung dan bertemu orang-orang muda yang hebat, dimana mereka telah siap mengambil bagian dari sebuah perubahan. Perubahaan atas dirinya, cara komunikasinya dan perubahan atas kerja kerasnya terhadap ibu-ibu dan anak-anak yang masuk dalam program kerja tahunannya.












Senin, 11 Januari 2016

Si Rani, Ternyata Tak Berani




BEBERAPA orang terlihat berlalu lalang di dalam ruangan yang berukuran 6x7 meter. Desain ruangan yang berdinding putih abu-abu itu, memang seperti rumah sakit. Namun, anggapanku segera terlunturkan dengan daftar absen ujian yang tertempel rapi di daun pintu.

**
Sejak pukul 06:30 Wita, saya dan dua orang teman dengan mengenakan baju yang sama sudah membelah jalan kota yang tak sepadat biasanya. Mungkin karena hari minggu, jadi jalan tak dipenuhi dengan anak sekolah dan angkot. Si ranger merah kuhentikan di parkiran salah satu toko alat-alat sekolah dan kantor terlengkap dan termurah di Kota Daeng. Hari ini, semuanya lengang, para pengunjung juga tidak saling desak, apalagi area parker yang biasanya tak mampu menampung kendaraan, kini hanya terdapat beberapa motor dan mobil yang parker sesukanya.
Kami mengambil keranjang dan mulai menjelajah mencari keperluan untuk kegiatan hari ini. Menurut estimasi, ada banyak anak-anak yang akan hadir dan meramaikan kegiatan komunitas Sahabat Indonesia Berbagi regional Makassar yang diberinama Project Berbagi kesebelas. Acara utamanya adalah menggelar sunatan massal untuk 100 orang anak. Sudah bisa dibayangkan akan seheboh apa kejadiannya nanti.
Setelah semua belanjaan sudah terbeli, kami kembali memacu kecepatan di jalan raya menuju lokasi sunatan massal akan digelar. Jalanan sudah mulai ramai, apalagi ketika melintasi tempat peribadatan umat Nasrani. Tampak, beberapa orang mengenakan busana yang rapi lengkap dengan riasan wajah. Begitu segar dan semangat melihat mereka melangkahkan kaki dengan mantap menuju gereja di seberang jalan. Lamunanku harus terusik, karena lampu lalu lintas sudah berubah warna, menandakan si ranger merah harus kembali membelah dan mengurai kemacetan di jalan Masjid Raya.

***
            Jam di handphoneku belum menunjukkan pukul 08:00 wita, namun sudah Nampak beberapa anak di halaman sebuah kampus yang sudah terlihat berumur. Di dalam ruangan, beberapa relawan sudah asyik dengan pekerjaan mereka masing-masing. Kuputuskan melangkah ke ruangan bagian dalam, tempat dimana pengeksekusian kelamin dilakukan.
            Sejumlah meja sudah ditata sedemikian rupa, dilapisi gabus tipis dan dibungkus plastik. Ada empat relawan yang sedang memasang kantong plastik sampah di setiap sudut meja yang sudah diberi nomor. Di sudut ruangan, ternyata sudah ada beberapa orang yang dari tim medis yang tergabung dalam komunitas Pacica, mereka sedang mempersiapkan sejumlah alat yang akan digunakan nanti.
            Dua orang berjalan membawa tempat-tempat yang berisikan jarum suntik dan impul-impul kecil obat bius. Mereka membuka membuka plastik pembungkus spoit jarum suntik, dan mulai mengisinya dengan obat bius yang akan disuntikan pada anak-anak, sebleum proses penyunatan berlangsung.
            Sunat menurut agamaku, merupakan proses wajib yang harus dijalani baik laki-laki maupun perempuan. Selain, sebagai tanda masuknya masa baligh, sunat juga merupakan penyempurna ke-Islam-an bagi seorang laki-laki. Prosesnya juga harus diawali dengan wudhu, mengucapkan dua kalimat syahadat dan pemotongan bagian yang bisa menyebabkan penyakit, jika dibiarkan.

***
            Urutan pertama sudah memasuki ruangan, wajah-wajah yang tadinya ceria berubah menjadi tegang dan pucat. Bukan karena suasana ruangannya yang mencekam, namun mereka membayangkan proses sunatnya yang menyakitkan. Teriakan demi teriakan terdengar memenuhi ruangan yang tadinya hanya diisi oleh candaan beberapa orang, membuat beberapa anak yang sedang menunggu menjadi panik. Bukan itu saja, anak di meja 5 pun memutuskan mundur dari medan laga.
Dia menangis dan memeluk tangan bapaknya, seakan meminta pertolongan. Tapi sayangnya, sang bapak justru bukan membujuknya untuk pulang ke rumah, tetapi menyuruhnya naik kembali ke atas meja yang disulap menjadi tempat tidur pasien dadakan.
“Betapa besar perjuangan seorang lelaki untuk menjadi sempurna,” benakku ketika melihat uraian air mata yang tumpah ruah dalam ruangan yang layaknya rumah sakit. Tetapi pikiran itu langsung ku tepis, ini lantaran banyak juga lelaki yang akhirnya menjadi penjahat kelamin tanpa pernah berpikir betapa sakitnya proses penyempurnaan alat kelaminnya.

****
            Ada yang menarik dari proses penyunatan yang dilakukan, meski masih diiringi dengan tangisan, namun yang membuatku takjub adalah tidak ada setetes darah pun yang berceceran di lantai. Tissue yang terletak di atas meja, hanya digunakan untuk mengeringkan keringat sang dokter atau membersihkan tangan.
            Baru saja logikaku terus mencari jawaban untuk proses sunat yang dilakukan, terdengar perbincangan relawan yang bertugas di meja pembagian hadiah di jalan keluar.
            “Ohh sistem sunat laser, begitu toh,” Ujar relawan yang mengenakan jilbab ungu. Entah siapa namanya.
            “Iya, laser itu digunakan untuk mempercepat proses sunat dan rasa sakitnya. Luka yang dihasilkan pun tidak berlumuran darah, seperti proses sunat yang konvensional. Intinya lebih mudah,” Jelas sang relawan yang sepertinya sudah terbiasanya melihat proses sunat ala laser.
            Baru saja terjawab kebingunganku, melintas seorang anak yang terus menangis dan merengek di samping ibunya yang seperti sedang emosi. Dalam pikiranku, anaknya sudah sunat dan meminta sesuatu pada sang ibu. Namun, dugaan itu kutepis tatkala mendengar ucapan ibunya.
            “kauji yang mau, terus kenapa sampai disini, kau jadi tidak mau? Pulangka kalau menangis ko terus,” (Kamu yang mau, kenapa sampai di tempat sunat jadi tidak mau? Saya pulang kalau kamu menangis terus) gusar sang ibu melihat anaknya yang masih saja menangis.
            Kudekati dengan wajah cemas, alih-alih sang ibu akan memukul si anak. Mencoba membujuknya dengan segala cara, namun si anak tetap menangis dengan suara lantang. Si ibu menjadi tambah marah.

*****
             Baru ku tahu bahwa nama si anak itu, Rani. Dia sudah dianestesi, sebenarnya tinggal proses pemotongannya saja yang belum. Tapi, si Rani malah melompat setelah disuntik dua kali, karena mendengar tangisan anak di sebelahnya. Itulah asal muasal si ibu naik pitam.
            Padahal. Proses sunat tidak menghabiskan 15 menit per anak. Tetapi, karena Rani takut, akhirnya ibunya yang tadi datang dengan rombongan harus rela tinggal dan menunggu si anak sampai selesai disunat.
            Para dokter juga sudah memasuki waktu istirahat dan shalat, akhirnya penantian si Rani dan ibunya semakin lama. Jejak air mata masih sangat jelas dipipinya, gerakan jemari yang memainkan sarung yang terikat dipundaknya mengisi waktu menunggu.
            Ternyata, si Rani yang bertubuh kurus dan kulit matang sempurna oleh matahari merupakan anak yang berbakti pada orang tua. Ia rela bekerja diusianya yang masih belia, membantu perekonomian keluarga. Untuk makan dan sekolah pun Ia harus bekerja, jadi tidak ada cukup dana untuk sekedar disisikan guna keperluan sunatnya. Itulah yang membuat hati sang ibu menjadi geram melihat anak lelakinya yang terkenal pemberani, menjadi bernyali ciut ketika berhadapan dengan jarum suntik.
            Setelah waktu istirahat tim medis usai, ibunya kembali membujuk Rani untuk sunat. Air mata yang tadinya kering, kini kembali membasahi kedua pipinya. Namun, karena takut dengan ancaman ibunya, Rani yang ternyata tak seberani jiwa perjuangan hidupnya, akhirnya pasrah dan naik di meja. Dokter kembali menyuntiknya, dan melakukan proses sunatan dengan tetap tersenyum meski telinganya berdenging mendengar jeritan tangis si Rani kecil.
            Ketika dokter berkata selesai, seketika senyum terlukis di wajah si Rani. Sepertinya dia hanya takut mendengarkan teriakan anak yang berada di meja sebelah, buktinya sekarang dia tersenyum seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Sunatan Massal bukan hanya kegiatan bakti sosial, tetapi perwujudan nyata manusia memanusiakan manusia.  

Senin, 10 Agustus 2015

Hidup Bersahaja Di Rammang-rammang


Oleh: Indah A. Febriany

            Hijau,
            Gemericik,
            Helaan nafas alam terdengar layaknya orkestra megah,        
            Ombak kecil sesekali merayu penumpang kapal tuk tak memalingkan wajah,          
            Suasana tenang membius batin,
            Hamparan karst menyambut setiap orang dengan tangan terbuka,
            Gugusan kecil batu karang menjadi penunjuk jalan,
            Lorong-lorong karst seakan ingin memeluk erat setiap pengunjung.

            Menghabiskan malam di Rammang-rammang menjadi pengalaman pertama bagiku, setelah beberapa tahun lebih nyaman berdiam diri dalam kehangatan rumah. Kasur yang embuk serta suhu yang terjaga, sedikit harus ditinggalkan ketika Anda memutuskan untuk bermalam di daerah yang namanya memiliki arti “kabut.”
            Daerah yang baru terjamah sekitar awal 2000-an ini terletak di Desa Salenrang, kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Meski sudah satu dekade lebih Rammang-rammang dijadikan objek wisata, namun urusan akomodasi masih terbilang agak sulit, apalagi bagi para pelancong yang datang dari luar kota. Kecuali, jika nantinya pemerintah daerah Maros menyediakan mobil wisata yang akan mengantar pengunjung hingga ke dermaga Rammang-rammang.

            Ketika sampai di dermaga, rasa khawatir sedikit berkurang. Ini lantaran, perahu wisata milik warga sudah siap mengantarkan setiap pengunjung. Namun, ketika Anda memilih untuk jalur darat juga bisa, tetapi harus sabar menembuh perjalanan kurang lebih 2 jam perjalanan jika Anda berangkat dari kota Makassar.
            Bayangan kabut atau awan tipis seketika menggodaku ketika mata menangkap pegunungan karst yang terhampar sejauh mata memandang. Aliran sungai Pute yang sedikit keru, mengayun lembut perahu yang dijalankan menggunakan bantuan mesin. Tetapi, sesekali mesin perahu harus dimatikan, apalagi ketika di wilayah yang cukup sempit dan perahu yang saya tumpangi berpapasan dengan perahu yang lain.
            Betapa ahli para pemilik perahu, ketika harus berbelok diantara karang yang tersusun tak beraturan. Ibarat sirkuit laga yang mengharuskan si pemilik kendaraan meliak-liuk menghindari karang. Perjalanan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, apalagi berada di tengah pohon nipah dan pohon bakau khas sungai yang berair payau. Apalagi, model setiap batuan karst yang unik menambah keeksotisan tempat yang masih jarang dijamah oleh para pelancong lokal dan mancanegara. Padahal, taman hutan batu kapur di wilayah Maros-Pangkep ini, satu-satunya di Indonesia. Bukan hanya itu, Rammang-rammang juga tercatat sebagai pegunungan batu kabur terbesar ketiga di dunia, setelah taman hutan batu Tsingy di Madagaskar dan taman hutan batu Shilin yang berada di Tiongkok.   
Seketika udara menjadi agak sedikit pengap ketika perahu melintas lebih dekat dengan kawasan pegunungan karst. Tetapi, pengapnya hilang terganti takjub yang tak terkira. Ibarat masuk dalam lorong waktu yang sedikit diterangi cahaya persis berada di atas kepala. Relief permukaan batu karst begitu menggoda untuk diamati.

            Panas yang menyengat ketika perahu kami merapat di ujung dermaga, lebih tepatnya bisa dikatakan daratan yang sangat dekat dengan bebatuan karst. Welcome to dermaga kampong Berua. Menyenangkan! Bisa Anda bayangkan bukan, apalagi yang akan dijumpai ketika Anda berada di Kampung Berua.
            Beberapa orang terlihat sudah mendirikan tenda ketika kami sampai. Saya hanya mampu duduk termangu menatap pegunungan karst yang tinggi menjulang, sembari menarik nafas menghirup segarnya udara yang masih tak terjamah oleh polusi.
            Keramahan penduduk menyambut setiap orang pun begitu menyentuh, senyum kegembiraan mereka. Mungkin saja karena Rammang-rammang jarang dikunjungi tamu yang begitu banyak. Ditambah lagi petinggi Sulsel akan bertandan membuka sebuah event bergengsi bertajuk “Fullmoon Festival.”


            Keramahan penduduk di Rammang-rammang begitu bersahaja. Senyum tulus mereka menandakan keluguan yang merindukan sapaan lebih banyak pengunjung. Ibarat ruang tamu, Rammang-rammang jarang digunakan untuk menjamu. Hanya dibiarkan membisu dengan keindahan yang tersembunyi diantara pegunungan batu karst. Sejumlah objek wisata lainnya juga akan membuat Anda semakin kagum, seperti telaga bidadari, gua bulu’ barakka’, ada juga gua telapak tangan, dan gua pasaung.
            Taman Hutan Batu Rammang-rammang menunggu lebih banyak orang untuk berkunjung. Senyum Anda harapan baik bagi para penduduk untuk memperbaiki perekonomian rakyat mereka. Pastikan destinasi akhir pecan Anda dan keluarga ke Rammang-rammang.

Minggu, 05 April 2015

Refleksi NBS Part 2 - Sampai Jumpa Pada NBS Berikutnya

Tidak terasa Program yang bertajuk NBS atau lebih dikenal dengan kepanjangan “Nulis Bareng Sobat,” di dua wilayah telah usai. Di Makassar, khususnya Tim A pertemuan akhir digelar tepat pada hari Sabtu, 4 April 2015 lalu.
 
Ada perasaan sedih, haru dan tidak ikhlas meninggalkan anak- -anak kelas 4 A SDN Paccinang. Bukan karena programnya telah usai, namun masih terlalu sedikit ilmu yang telah kami bagi. Terlalu singkat waktu yang diberikan kepada para pejuang aksara yang mengklaim dirinya sebagai relawan Sobat Lemina.
 
Tetapi, satu hal yang membuat kami senang, yakni mereka berubah. Mereka lebih mencintai kegiatan menulis. Ini dapat dilihat ketika para relawan memberikan tugas, mereka langsung mengambil kertas dan mulai menulis. Sebuah perkembangan yang luar biasa. Bayangkan saja, pada pertemuan awal, kami harus mengakui bahwa kami bertemu dengan kata “kesulitan” hanya untuk membuat mereka ingin menulis.
 
Beberapa kesulitan yang kerap kami jumpai, yakni sebagian besar anak akan terus mengajukan pertanyaan terkait tema, apa yang ingin mereka tulis?, berapa paragraf yang harus mereka buat?, sampai-sampai ada anak yang akan mengajukan penawaran terkait jumlah paragraf yang harus ditulis.
 
Para relawan juga tidak hanya bertemu dengan sejumlah anak yang kerap kali ingin mangkir dari tugas. Namun, pada minggu-minggu pertama kami cukup direpotkan dengan beberapa anak yang selalu ingin menarik perhatian para kakak pendamping dengan membuat kelas jadi layaknya pasar.
 
Tingkah mereka akhirnya membuahkan sebuah pertemuan. Dimana, semua tim yang berada di dua daerah yakni Gowa dan Makassar bertemu di sebuah rumah makan cepat saji, hanya untuk membahas tentang setiap langkah yang telah kami lakukan.
 
Hasilnya cukup mencengangkan. Ini lantaran, pertemuan singkat tersebut juga menguak terkait keluhan-keluhan di luar kelas. Para relawan seakan tidak terlalu puas dengan kerja setiap anggota tim mereka. Cukup unik, ketika kegaduhan di dalam kelas, membuat satu sama lain menyalahkan kondisi. Pada posisi inilah, relawan merasa berada di titik terendah mereka. Tetapi, apakah mereka menyerah? Tentu saja tidak, justru para relawan akhirnya bangkit dari keterpurukan dan terus melangkah. Dan, hebatnya lagi, mereka menyadari banyak hal terkait bekerja dalam sebuah tim.
 
Setelah pertemuan itu, para relawan seakan bermetamorfosis menjadi seseorang yang baru. Mereka lebih mampu melapangkan hati satu sama lain, hingga mereka mampu menurunkan ekspektasi mereka terhadap orang lain. Satu yang tak kalah pentingnya, mereka berhasil membangun komunikasi yang baik pada akhir-akhir pertemuan NBS.

Sedikit merefleksi langkah kami selama 12 kali pertemuan pada program NBS. NBS bukan hanya memberikan perubahan prilaku pada anak-anak di kelas, tetapi telah merubah kami menjadi orang yang jauh lebih peka dan peduli terhadap lingkungan sekitar. NBS hanya jembatan bagi kami untuk membangun pribadi yang jauh lebih baik lagi. Karena kami bukan hanya berbagi ilmu, tetapi kami belajar berbagi hati, pikiran serta waktu, guna melahirkan generasi yang bermanfaat di masa yang akan datang.
 
Senang rasanya, melihat keakraban yang terjalin di antara para relawan dan anak didik di kelas. Mereka bukan lagi melihat kami orang asing, tetapi mereka menerima kami apa adanya, serta menjadikan kami bagian penting yang dianggap harus ada dalam kehidupan mereka.
 
Cukup sedih ketika salah seorang murid yang bernama Maria atau akrab dipanggil Imel harus menghembuskan nafas terakhirnya. Kami cukup terpukul, karena Allah memberikan waktu yang begitu singkat. Masih lekang dalam ingatan, ketika Maria bertanya dengan semangat terkait cita-citanya. Itu pertemuan terakhirku dengan Maria. Meski singkat, namamu akan terus ku kenang Maria.
 
Semoga apa yang kami lakukan selama beberapa bulan ini, menjadi benih yang akan mereka panen dikemudian hari. Sedih rasanya harus bertemu dengan kata “Akhir,” namun kami harus yakin bahwa mungkin ini menjadi “Akhir” bagi kami, tetapi akan menjadi “Awal” bagi mereka untuk terus berkarya.
 
Terima kasih buat semua anggota tim A yang telah menjadi bagian terpenting dalam kehidupanku beberapa bulan terakhir. Terima kasih buat seluruh relawan NBS part 2, tetaplah menjadi inspirasi bagi orang lain. Kak Bunga dan Om Rara, satu kata yang bisa menggambarkan NBS, “Awesome”



Jika kalian membutuhkan ruang untuk menemukan siapa sebenarnya diri kalian, jangan lewatkan kesempatan untuk menjadi relawan NBS Part 3. Buktikan bahwa rasa peduli yang kalian miliki terhadap dunia pendidikan, dengan mengambil bagian dalam setiap pertemuan NBS nantinya. Ikutlah dalam pusaran perubahan, jangan biarkan kalian hanya menjadi penonton atau sekedar menjadi komentator. Cukup sisikan 2 jam setiap 2 pekan pada hari Sabtu, dan bersiaplah merasakan sensasi dunia pendidikan.

Kamis, 12 Maret 2015

Lika Liku Lelaki



Senja Di Kotaku

“Benarkah cinta itu sesempurna pikiran manusia yang sedang jatuh cinta? Ataukah memang tidak ada cinta yang sempurna untuk manusia? Teruslah mencari cinta, meski harus meninggalkan zona yang membuatmu nyaman”
            Sepenggal percakapan yang cukup menguras waktu dan pikiran. Padahal, jika menyoal tentang cinta, aku bukanlah tergolong lelaki yang kurang beruntung, Tuhan memberikan kelebihan yang cukup menolongku mencari seseorang yang mau mencintaiku. Wajahku bisa dikategorikan tampan, tubuhku jangkung, dan dibalut dengan kulit yang sedikit eksotis dan terawat.
            Namun, apakah benar wajah seseorang bisa menjamin akan merasakan cinta sejati dengan cepat? Buktinya, sudah cukup banyak wanita yang pernah singgah dan bertahta di hatiku, tapi belum ada satu orang pun yang mampu menaklukkan keegoisanku yang terkadang harus dikontrol lebih oleh makhluk yang disebut wanita.
            Sering aku merasa, wajah yang tampan ini sebagai “kutukan” yang tidak cocok untuk menaklukan kata cinta. Di kala, cinta sedang bersemi di hati, kenapa mata dan hatiku masih kerap kali menginginkan orang lain tuk ikut bertahta, menemani kesendirian yang tak bertepi ini. Terdengar cukup egois memang, ketika ada keinginan dalam diriku untuk memiliki lebih dari satu wanita.
            Usiaku memang sudah terbilang matang, lantas, kenapa tingkat keseriusanku membina hubungan masih berada di level dasar? Buktinya, beberapa teman yang kesannya masih kekanakan mampu memutuskan untuk bisa hidup dan mempersembahkan cintanya hanya pada seorang wanita saja.
            OK, kalau masalah cinta mungkin itu bukan ranaku untuk bertaruh. Ini lantaran, dewi fortuna masih enggan mengibaskan sayapnya ke arahku dan menggerakkan hati sang wanita, yang entah saat ini masih singgah di hati lelaki mana?
            Jika ditanya, siapa lelaki paling tampan di lingkungan kantor, tanpa rasa cangkung, mungkin aku yang terpilih. Tetapi, mungkin sebatas pikiranku saja sih. Buktinya, hingga saat ini, hanya segelintir teman dekat yang memang enak diajak jalan dan bersantai disuatu tempat, itupun mereka semuanya berkelamin laki-laki. Sama sepertiku, mereka memiliki pacar, namun masih sering menginginkan wanita lain.
            Pernah ada wanita yang hadir dan membuatku hampir memutuskan untuk mengakhiri masa kesendirianku. Jejak wanita itu, masih terlihat jelas ketika tubuhku ku ajak untuk menengok ke belakang. Meski, beberapa wanita sempat membuat hatiku merasakan getaran halus, ternyata tidak cukup untuk bisa menghapus sepenuhnya jejak itu.
            “Itukah yang dinamakan cinta sejati?” pikiran itu yang kerap merasukiku dan menguasai pikiranku, dikala selimut malam telah dibentangkan oleh sang kuasa dan jiwa-jiwa manusia sudah tertidur lelap, ragaku masih berusaha mencari sesuatu yang hingga kini entah apa jawabannya. Cintakah yang sedang aku cari saat ini?

Genta Is Blue
            Kebanyakan orang lebih mengenalku si penyuka biru. Sampai-sampai namaku selalu disandingkan dengan warna itu. Mereka menyebutnya dengan Genta Is Blue. Padahal, jauh dilubuk hati, bukan hanya biru yang ku sukai, hitam juga demikian.
            Kecintaanku terhadap hitam, juga tidak terkalahkan dengan biru yang adem. Hitam membuatku merasa lebih percaya diri ketika melakukan sesuatu. Hitam adalah gambaran diriku sesungguhnya. Warna yang tak tertebak dan bisa cocok dengan semua corak yang disandingkan dengannya.
            Kesan mistis akan hilang, ketika aku yang mengenakan hitam. Biasanya jauh lebih terkesan elegan dan memberikan aura yang membuatku nyaman. Bisa merasakan menjadi diri sendiri.
            “Genta, boleh minta tolong untuk dibuatkan lapo….,” Jeni tidak melanjutkan kalimatnya ketika melihat wajah Genta yang tak berubah dan tak bergeming.
            “Gentaaa…GEntaaaaaaa….”
            “Yaaaa, iyaaa.. kenapa? Ada apa ya? Kenapa Jen?”
            “Subhanallah, Genta…. Dari tadi Jeni ngomong ga didengar toh?”
            “Ngomong apa ya? Masa sih? Kapan ngomongnya?”
            “Kalau lagi ga konsen mending istirahat dulu sana.” Jeni meninggalkan Genta yang masih bingung dan bersalah.
            “Kenapa sih? Koq tadi saya bengong?” Genta menyesali tingkahnya yang selalu tak bisa menguasai dirinya, ketika berhadapan dengan Jeni. Jeni adalah teman sekaligus sahabat wanitanya yang setia mendengar keluhannya. Namun, entah sejak kapan Genta sudah jarang lagi bercanda ataupun sekedar berbincang ringan dan tenang dengan Jeni.
            Padahal, wanita inilah yang menyadarkanku tentang cinta dan mencintai. Cinta yang katanya tidak harus dimiliki, cukup melihat orang yang dicintai sedang berbahagia saja, sudah cukup melahirkan rasa bahagia. Wanita yang cukup tangguh dan tak terjamah.
            Aku pun merasakan kerdil jiwa ketika berada di dekatnya. Tatapannya membuatku luluh dan menjadi lupa diri. Hingga kini, tatapannya masih belum sanggup ku tangkis dengan hanya sekedar membalas tatapannya. Matanya yang setajam elang, membuatku merasa terpenjara dan tak berkutik ketika lensa retinanya menangkap bayangku didalamnya.
            Perasaan ini hadir sekitar 2 tahun lalu, tapi masih tak sanggup tuk ku ungkapkan. Tidak ada alasan yang membuatku juga yakin, bahwa getar yang hadir ketika dirinya disampingku bisa disebut dengan cinta. Mungkin saja, semuanya hanya akan indah ketika kita berdua saling menjaga jarak.

Noon At Café
            Seperti biasa, ketika kerjaan sudah kelar. Aku dan sejumlah kawan di kantor kerap kali menghabiskan waktu di sejumlah tempat. Sekedar untuk mengisi perut yang minta diberikan asupan ataupun untuk mengisi waktu kesendirianku, setelah melepaskan diri dari cinta bersama wanita berwajah manis.
            Memasuki café yang berada di salah satu sudut kota yang ramai, terkadang membuatku tidak nyaman. Bertemu orang-orang yang berasal dari masa lalu, kerap menarik paksa diriku untuk masuk ke dalam kenangan, dimana wanita yang paling kucintai itu juga berada. Apakah ini yang dinamakan “Gagal Move On.”
            “Bram mau pesan apa?” Tanya Roki membawaku kembali ke ruangan café yang cukup ramai di malam hari.
            “Coklat susu dan roti saja.” Bram sambil menyerahkan daftar menu ke tangan Roki.
            “Kentang goreng enak nih kayaknya,” Denis mengusulkan menu yang bisa mengganjal rasa lapar, di penghujung pergantian warna langit.
            “Gen.. pesan apa?” Roki yang bertugas mencatat memang sedikit lebih ribut dari yang lainnya malam itu.
            “Donat coklat dan Nescafe deh?” Genta menjawab dengan asal dan tidak bersemangat.
            Ketika Roki berdiri melepas jaket dan melambaikan tangan ke salah satu pelayan café, ternyata ada beberapa wanita yang sudah memperhatikan keberadaan kami sejak tadi. Sayup-sayup terdengar perbincangan mereka tentang keberadaan kami, para lelaki bujang yang tak tentu arah.
            Ada rasa bangga juga sih, diperbincangkan oleh para wanita. Namun, di sisi lain, kehadiran wanita seperti itu sudah terlalu banyak dan terlalu sering kujumpai. Awalnya, akupun terbuai oleh rasa kagum mereka. Tetapi, lama kelamaan, semua rasa kagum itu hanya seperti bumbu yang ditambahkan ke dalam masakan yang sudah diberikan garam sebelumnya. Rasanya menjadi mengerikan, lebih tepatnya terkesan seperti kutukan. Kutukan bagi wajahku yang tampan dan postur tubuhku yang jangkung.

Ketika Kata “Cinta” itu Kuraih
            Ku buka secarik kertas yang pernah diberikan oleh wanita. Wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah Jeni. Jeni adalah wanita yang jauh dari kesan glamour, wanita yang bersahaja dan sedikit cuek. Wanita yang hingga saat ini, memiliki ruang khusus di hatiku. Melengkapi setiap hari yang kulalui, dan mengisi setiap kekosongan jiwa yang kurasakan.
            Ketika cinta menuntut kesempurnaan,
            Semua rasa akan menjadi hambar,
            Biarlah Ia berdansa dengan melodi di atas nadi kehidupan.

            Bukan bermaksud memainkan takdir,
            Melainkan mencoba menegur sukma yang terdiam.

            Ketika cinta sudah mengajarkan bahasa,
            Semua indera akan menyambut dengan getaran.
           
            Merindu,
Ibarat memadukan dua rasa ke dalam sebuah wadah tak bertuan,
Tak perlu meminta ijin,
Tak perlu malu tuk berucap.
Karna hadir sudah bisa memberi tanya akan jawab.

            Aku pun menyadari satu hal, bahwa ketika cinta yang dicari di tempat sejauh apapun, bahkan hingga mengelilingi dunia, semuanya akan sia-sia, ketika Tuhan belum memberikan jalanNya. Cinta sejati itu tidak untuk dicari, namun untuk dirasakan. Ketika hati ini yang memilih orang untuk mengisi satu ruang didalamnya, cukuplah menjadi jawaban atas pencarian yang fana itu.
            Kehidupan terkadang terasa dimainkan oleh takdir, dan terasa berat ketika raga harus terus diajak berkompromi untuk melangkah, sedangkan hati telah lama berhenti pada seseorang. Bukankah jika hati telah memberi tanda, maka otaklah yang sesekali harus mematuhi apa yang diisyaratkan oleh hati. Karena cinta bukanlah masalah logika, cinta masalah rasa. Ibarat lidah yang bisa membedakan antara manis, pedas dan asem di waktu yang bersamaan.
            Setelah lebih dari seperempat abad usia bumi telah kuhabiskan, barulah sedikit kata cinta dapat kupahami. Hanya memahaminya terkadang tak cukup untuk dapat bisa merasakan apa yang biasa disebut Cinta.
            Meraih ataupun diraih oleh kata cinta, ibarat menerima ajakan seseorang untuk berdansa dilantai yang luas, dan sedang disorot oleh cahaya yang hanya akan memantulkan bayangan antara pasangan yang sedang dimabuk cinta. Salah melangkah ataupun tidak mampu mengimbangi irama, merupakan bagian dari adegan dansa yang harus diselesaikan. Setidaknya aku mengerti sedikit tentang mencintai, lebih tepatnya memahami kata “cinta.”

Sunyi Teman Menyenangkan
            Siapapun, pasti langsung dapat beropini bahwa keberadaanku terkadang tak bisa membawa arti apa-apa bagi siapapun. Skalipun, itu adalah wanita yang kucintai. Menuntut kesempurnaan, ingin mengubahku menjadi seperti yang mereka inginkan, bukanlah cara yang cocok untuk membuatku bisa bertekuk lutut dihadapan siapapun.
            Secinta apapun diriku pada wanita itu, tak mampu mengubahku seperti yang mereka inginkan. Bukankah mencintai ibarat menuangkan air ke dalam wadah sama banyak, agar air yang ditampung tidak tumbah atau kurang. Jika rasa sayang itu, seakan memberikan hak lebih untuk mengatur hidup orang lain, itu bukan cinta. Tetapi, seperti masuk dalam pendidikan militer yang suka atau tidak, harus dilakukan.
            Mungkin aku tipe lelaki yang cukup keras dan susah untuk dimengerti. Hanya kesunyian malam yang kadang mampu memberi ruang lebih pada jiwaku yang terkekang. Pekatnya malam bagai pintu masuk untuk mengetuk jiwaku yang tertidur lelap.
            Ya.. aku yang terlahir di keluarga yang terbilang cukup mampu, bahkan bisa dibilang di atas taraf hidup orang kabanyakan. Tetapi, apa yang diberikan keluargaku sebenarnya harus dibayar dengan hidup terpisah dari orang tua. Jadi, kesendirian merupakan hal biasa. Itulah sebabnya jiwaku tumbuh semaunya, sekenanya dan semampu aku membentuknya. Tidak ada tekanan bahkan intervensi terhadap apa yang akan aku lakukan. Semuanya kulakukan sendiri.
            Semasa sekolah saja, aku sudah terbiasa tak bertemu dengan ayah dan ibu. Apalagi, ketika menginjakkan kaki di perguruan tinggi di kota yang berbeda. Kesempatan bertemu tentunya jauh lebih berkurang, dibandingkan ketika masih di kota yang sama. Sehingga, akupun harus memaksakan pribadiku tumbuh dan berkembang secara mandiri dalam hal yang sesungguhnya, yakni melakukan apapun seorang diri tanpa bantuan siapa-siapa.  
            Itulah sebabnya, sunyi menjadi teman dalam keabadian yang mengajarkanku segala hal. Sunyi yang membuatku dewasa, sunyi memberikan apapun yang kuinginkan. Ketika masalah menerpa, diriku lebih memilih mencari ruang yang sunyi, serta diam menjadi jawaban atas semuanya.
Jika ingin memahamiku, maka terdiamlah sejenak disampingku, karena terkadang melalui diamku, kau (seseorang yang entah saat ini dimana?) bisa memiliki jiwaku seutuhnya. Jangan hanya menjadi orang yang ingin merampas kebebasanku, tetapi jadilah wanita yang mampu memelukku meski tanpa jasad. Karena kerinduan sesungguhnya, hadir dari jiwa yang tertidur.
           
Mengenal Genta = Belajar Merasakan “Semua Hal” Menjadi Biasa
            Memang tidak ada yang sempurna, bahkan istimewa ketika mengenalku lebih jauh. Tapi, satu yang bisa saya janjikan bahwa Anda mungkin saya akan bahagia bersamaku, ketika saling mengerti dan memahami itu diimplementasikan dalam menjalin hubungan.
            Banyak orang bahkan beberapa wanita yang pernah dekat denganku, selalu mengatakan bahwa “Genta kurang menyenangkan, bahkan tidak seasyik yang pernah terpikirkan.” Cukup mengelidik memang, tetapi itu hak setiap orang untuk memberikan penilaiannya terhadap diriku.
            Dewi fortuna seakan tidak pernah merestui setiap hubungan yang berusaha kurajut bersama sang pujaan hati. Ataukah mungkin aku yang belum siap dengan kata “komitmen.” Apa yang ada dalam pikiran Anda, ketika seseorang membicarakan tentang komitmen? Hingga saat ini, aku pun tidak bisa menemukan arti dari kata tersebut.
            Ssssst….ssssttttt…..sssssttttttt, getaran handphone di kantung celana membuatku tersadar ketika sedang asyik duduk bersama Romi’s and the gank.
            “Lagi dimana? Dan sama siapa?”
            Tulisan yang terbantul di layar handphone, membuatku mengerutkan kening seakan berpikir keras untuk menemukan jawaban yang pantas untuk dibalaskan.
            Sssssst……Ssssttttt…….Sssssttttt, belum sempat dibalas, masuk lagi satu pesan yang bunyinya seakan menghakimi, itu menurut pikiranku saat itu.
            “Jangan pulang terlalu malam ya. Dan Jangan telat makan!!”
            Niat untuk membalas sms seketika hilang dan lenyap entah kemana, kuputuskan untuk meletakkan handphone di atas meja. Dan melanjutkan perbincangan yang terputus. Dilema memang, ketika mencintai dan menjalin hubungan. Terkadang sama rasanya dengan menyerahkan kedua tangan bukan untuk digenggam, melainkan diborgol dan harus siap melangkah kemana pun sang wanita itu pergi.
            Mungkin hal itu, merupakan salah satu alasan mengapa hubunganku harus kuakhiri. Meski terkadang, jiwaku tersiksa oleh bayangnya. Namun, ragaku masih belum siap untuk mengikuti apapun maunya.
            Cinta, bukan lagi hal yang istimewa dan bisa menjadi candu dalam keseharianku. Semuanya menjadi biasa, seperti pagi yang cerah pasti hangat oleh pelukan sang mentari, atau malam yang dingin akan tetap dingin meski bulan mencoba tuk merayu dan menampakkan wujudnya dengan indah.

Job, Jodoh Dan Hobi
            Pekerjaan merupakan sesuatu yang kini menjadi pelarianku tuk sembunyi dari kenyataan hidup. Tetapi, untungnya pekerjaan yang kujalani adalah hobi yang menimbulkan rasa nyaman dan senang bersamaan.
            Meski, jujur penghasilan yang didapatkan tidak pernah mencukupi untuk keperluaan pribadiku. Namun, karena hobi, semuanya kujalani dengan rasa bahagia. Selain pekerjaan yang dapat memberikan nutrisi pada jiwaku yang gersang, hobi otomotif dan menjadi pelaku jual beli barang di dunia online, memberikan nafas buatan pada masalah kantungku tentunya.
            Pekerjaan yang ok, membuatku dapat melupakan masalah jodoh yang terkadang membuat jiwaku gelisah. Gelisah memikirkan tentang apa dan bagaimana caranya tuk memulai membina rumah tangga bersama seseorang? Bagaimana masa tua yang kuinginkan? Apakah sanggup aku menjadi nahkoda dan mengarungi samudera kehidupan bersama seseorang? Bagaimana ketika anak-anak telah dihadirkan dan melengkapi hidupku?
            Cukup sulit memang tuk menemukan jawabannya. Mungkin satu yang harus dilakukan, jalani dan hadapi. Tuhan pun melarang umatNya untuk terlalu banyak berpikir dan bertanya akan takdirnya, bukan? Untungnya aku terlahir dari orang tua yang tidak pernah menambahkan kesulitan dalam hidupku, dengan menanyakan sesuatu yang berkaitan tentang “Jodoh.”
            Tetapi, semuanya berefek pada pembentukan karakter yang terkesan diam dan Jaim alias Jaga Image. Padahal, diam bukan karena suka atau hobi, tetapi diam lebih memberiku kesempatan tuk mengerti lebih banyak sikap orang-orang yang berada di sekelilingku, meskipun akhirnya membuat diriku terkesan cuek dan tak acuh.
            Pencaharianku akan jodoh, mungkin masih panjang. Sikapku yang diam juga mungkin sudah menjadi salah satu hal yang melekat dan sulit tuk dipisahkan. Berharap, ketika suatu saat diriku bertemu dengan wanita terbaik yang akan menjadi ibu dari anak-anakku, semuanya akan berubah. Berubah ke arah yang lebih baik tentunya.
Begitulah Lika Liku Lelaki. Genta adalah salah satu jiwa lelaki yang masih akan terus berjalan mencari dan berusaha menemukan dirinya pada satu titik yang akan mengubah kehidupannya. Entah sampai kapan? Mungkin saja besok, mungkin juga membutuhkan waktu yang tidak cepat? Setidaknya dengan saling bercerita dan berbagi kisah akan membuat Genta, Anda atau siapapun bisa lebih mengerti arti kehidupan yang dititipkan pada jiwa yang ditiupkan oleh sang kuasa untuk berdiri dan berjalan di muka bumi ini.

THE END